Minggu, 25 Desember 2011

cerita dewasa dengan ibu ibu

cerita dewasa dengan ibu ibu  genit sekarang banyak juga yang pake jilbab, jadi inget mantan temen aku ceweknya juga pake jilbab , tapi ngeseks nya jago banget, nah untuk itu aku berharap rekan-rekan jangan melihat simbol agama seseorang, baiknya kita menilai pribadi orang itu, berikut salah satu pribadi ibu ibu girang boleh di bilang tante girang, tapi udah agak tua atau STW, walaupun kesehheriannya menggunakan jilbab, rupanya dia masih gak sanggup membatalkan birahi, Berikut ceritanya.
“Tadi malam aku lewat rumah ibu dan mendengar suara menherik jadi aku mengintip. Ternyata, aku lihat ibu sgilag mencolok-colokkan pisang ke itunya ibu sambil nyetel film BF. Saya sangat tteriaksang.Kalau ibu setuju, dheripada pakai pisang aku juga mau dan penginbegituan dengan ibu”.
Itu kalimat yang kutulis dalam HP dan siap dikirimkan dalam bentuk SMS ke sebuah nomor HP milik Bu Ruminah, tetanggku. Namun kendati tinggal memencet tombol agar pesan terkirim, aku sempat ragu. Jangan-jangan nanti Bu Rum (demikian Bu Ruminah biasa dipanggil) ngadu ke ibuku atau ke orang-orang tentang SMS yang kukirim, begitu aku membathin. Tapi, ah nggak mungkin dia berani cerita ke ibuku atau ke orang-orang. Sebab kalau dia cerita, kebiasaannya memuaskan diri dengan buah pisang kan jadi ketahuan. Begitu pikirku lagi. Yakin Bu Rum tidak mungkin menceritakan isi SMS itu ke orang lain, akhirnya kutekan panel tanda OK pada HP-ku dan terkirimlah SMS trsebut.
Hanya dalam hitungan menit, reaksi dheri SMS yang kukirim langsung kudapat. HP ku berdering dan pada layar terlihat nama Bu Rum memanggil. Tetapi aku tidak berani mengangkat karena pasti ia mengenali suaraku hingga kudiamkan saja panggilannya. Setelah seringkali telefonnya tidak susangkat, akhirnya sebuah SMS masuk.
“Tolong jawab. Nomor siapa ini”. Demikian bunyi SMS yang dikirimnya dan memacu niatku untuk kembali mengisenginya.
“Pokoknya ibu sangat mengenal aku. Bener lho Bu, pisang aku jadi pengin banget dimasukkan ke itunya ibu seperti pisang yang ibu pegang tadi malam. Ibu pasti puas. Mau kan Bu?”. Ujarku dalam SMS yang kukirim berikutnya.
“Huussh… jangan ngawur. Saya bukan cewek begituan dan aku kan telah tua. Tolong kejasusan itu jangan diceritakan ke orang lain. Tolong banget”. Ungkapnya dalam SMS berikutnya.
Rupanya dia ketakutan kalau aku menceritakan kejasusan yang sempat kupergoki itu hingga niat isengku makin menjadi.
“Beres Bu, Saya tidak akan cerita ke siapa-siapa. Tapi sungguh aku sangat tteriaksang detik melihat memek ibu dicolok buah pisang. Bahkan lebih mteriaksang dibanding memek cewek bule yang ada di film BF. Jadi soal aku kepengin begituan dengan ibu memang bener-bener lho.” Kataku lagi dalam SMS yang kukirim selanjutnya. Tetapi balasan SMS dheri Bu Rum pendek saja. “Sudah ya. Saya sangat berterima kasih kejasusan itu tidak diceritakan ke siapapun,” ujarnya dalam SMS yang kuterima. Setelah itu seringkali kukirim SMS dengan kata-kata yang lebih panas. Termasuk kesediaanku untuk menjilati memek dan itilnya bila ia mau melayaniku. Namun Karena tetap tidak dijawab maka malam itu SMS an dengan Bu Rum tidak berlanjut.
Bu Ruminah yang biasa djilata Bu Rum ialah tetanggaku. Rumahnya cuma terpaut tiga rumah dheri rumahku. Suaminya Pak Kirno, ialah pensiunan TNI dan pernah menjadi Satpam sebuah bank serta menjabat Ketua RW sebelum terkena stroke dan mengalami kelumpuhan. Sementara Bu Rum di samping menjadi ketua kkamumpok pengajian ibu-ibu di lingkungan RW tempat tinggalku, ia yang pernah mengenyam pendidikan pesantren itu juga mengajheri ibu-ibu mengaji termasuk ibuku yang menjadi rekan dekat dan sekaligus muridnya. Aku yakin orang-orang tidak bakalan percaya kalau kuceritakan bahwa Bu Rum rupanya suka melampiaskan hasrat seksnya dengan menggunakan pisang. Betapa tidak, cewek berumur 53 tahun itu, penampilan kesehheriannya sangat santun. Selalu berkerudung dan menutup rapat auratnya. Hingga orang tidak akan percaya tentang kebiasaannya yang nyeleneh dalam soal seks terlebih di usianya yang telah tergolong tua.
Tetapi aku benar-benar melihat dengan mata dan kepalaku sendiri tentang apa yang dilakukan dia yaitu memuasi diri dengan buah pisang. Bahkan detik itu, terus tteriak aku sangat tteriaksang. Terlebih detik ia meremasi sendiri kedua teteknya yang besar dan melihat memeknya yang dipenuhi rambut tebal dicolok-colok dengan buah pisang. Karena selalu terbayang oleh bagian-bagian tubuhnya yang membikinku tteriaksang, akhirnya aku iseng mengirim SMS. Karena beberapa SMS ku yang terakhir tidak dibalasnya, aku nyheris nekad dengan mengancamnya bahwa bila ia tidak mau melayaniku akan kuceritakan soal ngocok dengan pisang itu kepada orang-orang. Hanya setelah kupikir, tindakanku itu bisa membikin dia kalap atau melapor ke polisi hingga kubatalkan niatku tersebut. Hanya aku tetap bertekad untuk mengisenginya dengan berkirim SMS kepadanya di tiap kesempatan. Hampir tiap hheri, terkadang pagi, siang maupun malam, beberapa SMS kukirim kepadanya. Intinya mengungkapkan keinginanku untuk menjadi patner seksnya karena setelah memergoki dia main dengan pisang aku menjadi sangat tteriaksang dan terpaksa sering mengocok sendiri kontolku sambil berimajinasi menyetubuhinya. Tetapi ia tetap tidak mau membalasnya. Pernah seringkali ia mencoba menelepon tetapi aku tidak berani mengangkatnya.
Oh ya, dheri perkawinannya dengan Pak Kirno, Bu Rum cuma memmempunyaii satu anak Mbak Lasmi. Ia telah kawin dan memmempunyaii beberapa anak. Mbak Lasmi tinggal di tempat lain di sebuah kecamatan terpencil karena suaminya menjadi pegawai kecamatan di sana. Jadi status Bu Rum ialah nenek dheri beberapa cucu. Puncak dheri keisenganku mengrim SMS kepada Bu Rum terjadi ketika pengajian ibu-ibu di kampungku yang dilaksanakan secara tukaran jatuh ke gantian ibuku. Karena acaranya berbarengan dengan halal bi halal setelah lebaran, pengajian yang diadakan di rumahku terbilang besar. Hidangan yang biasanya cuma snack kali ini dilengkapi ketupat dan opor ayam. Juga ustazahnya yang biasanya pembicara lokal, kali ini didatangkan dheri luar kota.
Sejak pagi rumahku ramai oleh ibu-ibu tetangga yang mempersiapkan acara tersebut termasuk Bu Rum. Adanya cewek itu di rumahku membikinku tidak berani mengirim SMS iseng padanya. Hanya secara sembunyi-sembunyi aku sering mencuri pandang menatapinya. Seperti kebiasaannya, detik itu Bu Rum menggunakan busana muslim dengan hiasan bordir yang apik. Yakni sebuah baju terusan warna krem yang longgar yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya dipadu dengan celana panjang warna senada. Dengan kerudung yang tak pernah lepas menutup kepalanya, cewek bertubuh tinggi besar itu nampak anggun dan berwibawa.
Acara pengajian yang dimulai selepas ashar, baru berakhir menjelang maghrib. Sekira pukul 19.30 WIB, setelah acara beres-beres rumah selesai ibu memanggilku. “Win tolong ini susantar ke rumah Bu Rum ya.Tadi ia minta disisihkan lontong dan opornya karena katanya di rumah lagi tidak masak,” ujar ibuku.
Setelah seringkali berkirim SMS gelap kepadanya, sebenarnya agak grogi untuk berhadapan langsung dengan Bu Rum. Terlebih mengingat kata-kata jorok dan porno serta ajakan main seks dalam setiap SMS yang kukirim. Tetapi aku juga tidak mempunyai alasan untuk menolak perintah ibu hingga dengan terpaksa kulaksanakannya. Dua buah rantang besar berisi lontong dan opor kubawa ke rumah Bu Rum. Setelah seringkali mengetuk pintu dan menunggu agak lama, saya lihat seseorang mengintip dheri balik korden dan akhirnya membukakan pintu.Ternyata yang mengintip dan membukakan pintu ialah Bu Rum sendiri. “Ohkamu Win, ibu kira siapa. Ayo masuk,” ujarnya mempersilahkanku.
Bu Rum yang kalau berada di luar rumah berbaju muslimah yang rapat,rupanya tidak begitu adanya kalau sgilag di dalam rumah. Baju yang dipakainya cuma daster berbahan tipis dan tanpa lengan. Hingga BH hitam dan celana dalam putih yang dipakainya tampak menerawang. “Saya disuruh mengantarkan ini untuk Bu Rum,” kataku setelah berada di ruang tamu rumahnya. Tetapi Bu Rum tidak langsung menerima bingkisan makanan yang kusodorkan. Ia kembali membuka pintu dan keluar rumah. Setelah sedetik melihat sekeliling, ia kembali masuk dan mengunci pintu dheri dalam. Ia juga mengajakku ke dalam, ke ruang tengah rumahnya. “Taruh saja bawaannya di meja Win. Ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu,” katanya slow.
Deg! Serasa hentikan detak jantungku. Pasti ia telah tahu kalau yang berkirim SMS selama ini ialah aku, pikirku membathin. Gelisah akudibuatnya. “Duduk sini Win. Tidak ada siapa-siapa kok. Pak Kirno tadi dijemput Lasmi dan suaminya karena ia ingin banyak menghirup udara gunung yang segar. Mungkin agar bisa pulih,” ujarnya lagi.
Agak sedikit plong mendengar bahwa Pak Kirno suaminya sgilag tidak dirumah. Setidaknya kalau Bu Rum marah terkait soal SMS ku itu, suaminya tidak ikut mendengarnya. Hanya aku tetap tidak bisa membuang kegelisahan yang kurasakan. Seperti pesakitan yang menunggu vonis hakim, aku cuma duduk mematung di kursi sofa di ruang tengah rumah Bu Rum. Bu Rum duduk di kursi lain yang ada, dekat tempat aku duduk. Baru kusadheri, daster yang dipakainya rupanya terlalu pendek. Pacuma yang mulus terlihat terlihat terkuak. Hanya aku tetap tidak dapat menikmati pemandangan yang mengundang itu karena suasana tegang yang terjadi.
“Tadi waktu di pengajian, ibu minta ijin ke ibumu agar kamu mau mengantar ibu ke rumah Lasmi tiga hheri lagi untuk menjemput Pak Kirno.Rencananya mau pinjam mobil Pak RT dan kamu yang menyetir. Ibumu setuju dan memberi nomor HP milikmu. Tapi ibu jadi kaget, sebab rupanya nomornya sama dengan nomor yang suka dipakai SMS ke ibu beberapa hheri ini. Jadi kamu Win yang suka SMS ke ibu,” ujarnya tenang dan disampaikan tanpa emosi. Namun biarpun begitu, sempat kecut juga nyaliku.
“Eee…ee.. ti…eh… iya Bu,” jawabku terbata.
“Oh syukurlah kalau begitu. Ibu takut banget apa yang kamu sempat lihat diceritakan ke orang-orang lain. Ibu pasti sangat segan. Terima kasih banyak ya Win kamu tidak cerita ke orang-orang,”.
Ah rupanya ia tidak marah soal itu. Aku jadi merasa plong. Bahkan dengan terkuak, Bu Rum akhirnya bercerita soal kenapa ia terpaksa menggunakan pisang untuk memuaskan dorongan seksnya. Diceritakannya, meski telah tergolong berumur tapi kebutuhan biologisnya belum padam benar. Padahal telah lama Pak Kirno tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai suami. Bahkan jauh sebelum terkena stroke. Makanya setiap keinginan untuk itu datang ia selalu berusaha memuaskan sendiri termasuk menggunakan pisang.
“Ibu segan banget lho sama kamu Win. Apalagi kalau kamu sampai cerita ke orang-orang. Mau ditaruh dimana muka ibu?” Kata Bu Rum lagi.
“Tidak Bu, aku janji tidak akan cerita ke siapa pun soal itu,” ujarku mengiyakannya.
Mungkin saking bahagianya rahasianya soal ngeseks dengan pisang tidak akan terbongkar ia langsung berpindah duduk menjejeriku di sofa yang kududuki. Digenggam dan diguncang-guncangkannya tanganku.
“Terima kasih win, ibu sangat berterima kasih,” kata Bu Rum.
Beban yang semula seolah menghimpit dadaku langsung hilang melihat sikap Bu Rum. Hanya kembali aku sulit menjawab ketika ia menanyakan perihal kata-kata dalam beberapa SMS yang kukirimkan.
“Kalau ibu boleh tahu, sebenarnya apa yang mendorongmu mengirim SMS itu kepada ibu?”
“Eee… eee… sa… sa.. aku.. ee,” kembali aku terbata.
“Tidak apa-apa Win, jawab saja yang jujur. Ibu cuma ingin tahu,”
“Saya mengirim SMS itu karena sangat tteriaksang setelah melihat ibu,” kataku akhirnya.
Bu Rum saya lihat terpana. Mungkin ia tidak percaya dengan jawaban yang kuberikan. Namun sebuah senyuman terlihat mengembang di wajahnya hingga aku tidak takut lagi.
“Jadi kamu juga benar-benar ingin begituan dengan ibu?”
“Eee… maksud aku.. ee. Iya kalau ibu bersedia,” jawabku mantap.
Mendengar jawabanku Bu Rum langsung meraih dan mendekapku. Dalam kehangatan dekapannya, wajahku tepat berada di busungan toketnya yang terbungkus BH hitam. Wajahku membenam di busungan toketnya yang memang berukuran besar. Diperlakukan seperti itu kontolku jadi langsung bangun. Mengeras di balik celana dalam dan jins yang kupakai.
Sedetik setelah Bu Rum melepaskan pelukan pada tubuhku, saya lihat gaya duduknya makin sembrono. Kedua kakinya terkuak lebar hingga pacuma yang membulat besar terlihat sampai ke pangkalnya. Bahkan saya lihat sesuatu yang membukit dan terbungkus celana dalam warna hitam. Aku tak berkedip menatapinya. Untuk ukuran cewek seusia dirinya, kaki dan bagian paha Bu Rum masih terhitung mulus. Memang ada lipatan-lipatan lemak dan kerutan mendekati ke pangkal paha. Tetapi tidak mengurangi hasratku untuk menatapi bagian yang mteriaksang itu termasuk ke bagian membukit yang tertutup celana dalam warna krem. Jembut di memeknya itu pasti sangat lebat karena banyak yang tidak tertampung celana dalam yang menutupinya hingga terlihat banyak yang keluar dheri celana dalam yang dipakainya.
Rupanya Bu Rum tahu mataku begitu terpaku menatapi organ kecewekannya. Mungkin karena telah yakin aku benar-benar mau menjadi pelepas dahaganya, ia pkamurotkan sendiri celana dalam itu dan melepasnya.
“Bu Rum telah nenek-nenek lho Win. Tetapi kalau kamu pengin melihat memek ibu bolehlah. Sebenarnya ibu juga telah lama tidak puas main sendiri dengan tangan dan pisang,” katanya.
Bahkan tanpa sungkan, setelah melepas sendiri celana dalamnya ia duduk mengangkang membuka lebar-lebar pacuma. Memamerkan memeknya yang berbulu sangat lebat. Ah tak kusangka akhirnya dapat melihat memek Bu Rum dalam jarak yang sangat dekat. Memek Bu Rum lebar dan membukit. Jembutnya sangat lebat dan hitam pekat. Kontras dengan pacuma yang kuning langsat sampai ke selangkangannya. Puas memandangi bagian paling mteriaksang di selangkangan cewek itu, keinginanku untuk menyentuhnya menjadi tak tertahan. Kujulurkan tanganku untuk menyentuhnya.
Kuusap-usap jembutnya yang keriting dan tumbuh panjang. Jembut Bu Rum benar-benar super lebat menutupi memeknya. Hingga meski telah mengangkang, masih tidak terlihat lubang memeknya karena tertutup rambut lebat itu. Kuusap-usap dan kusibak jembut yang tumbuh sampai ke atas mendekati pusar cewek itu dan di bagian bawah mendekati lubang duburnya. Menimbulkan bunyi kemerisik. Untuk bisa melihat lubang memeknya, aku memang wajib menyibak rambut-rambut yang menutupinya dengan kedua tanganku. Bibir luar memek Bu Rum tampak tebal dan kasar karena telah banyak kerutan dan warnanya coklat kehitaman. Di bagian dalam lubang memeknya yang berwarna hitam kemerahan, ada lipatan-lipatan daging agak berlendir dan sebuah tonjolan. Ini rupanya yang disebut itil, pikirku. Tidak seperti ukuran memeknya yang besar, tebal dan tembem, itil Bu Rum relatif kecil. Hanya berbentuk tonjolan daging kemerahan di ujung atas celah bibir luar keseganannya yang telah berkerut-kerut. Kutoel-toel itilnya itu dengan jheri telunjukku yang sebelumnya kubasahi dengan liur. Ia mendesah dan sedikit menggelinjang.
“Kamu telah pernah begituan dengan perempuan Win? Ee.. maksud ibu ngentot dengan perempuan?”
“Belum Bu,” jawabku sambil tetap menggerayangi dan mengobok-obok memeknya.
“Masa!? Kalau melihat memek cewek lain selain mempunyai ibu?”
“Juga belum Bu. Saya cuma melihatnya di film BF yang pernah aku tonton. Memangnya kenapa Bu?” Jawabku lagi.
Sebenarnya aku berbohong.Sebab di rumah aku sering mengintip ibuku sendiri. Saat dia mandi atau tukar baju di kamarnya. Mendengar aku gak pernah berhubungan seks dengan perempuan dan gak pernah menyentuh memek, gak tahu kapan ia melakukannya, tanpa sepengetahuanku rupanya Bu Rum telah melepas daster dan BH nya. Telanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya dan memintaku untuk melepas semua baju yang kukenakan.
“Oooww.. mempunyai kamu besar juga ya Win,” kata Bu Rum sambil mengelus kontolku yang telah tegak mengacung setelah aku telanjang.
Bu Rum tidak cuma mengelus dan mengagumi kontolku yang telah keras terpacak. Setelah menjilat-jilat lubang di bagian ujung kepala kontolku, ia memasukkan kontol kontolku ke mulutnya. Aku jadi merinding membatalkan kepuasan yang tak pernah terbayangkan. Tubuhku tergetar hebat. Sesekali kurasakan mulutnya mengempot dan menghjilat kontol kotolku yang kuyakin makin mengembang. Lalu dikeluarkan dan dikocok-kocoknyanya perlahan. Ah, teramat sangat nikmat. Sangat berbeda bila aku mengocok sendiri kontolku. Saking tak tahan, tanpa sengaja aku memegang dan mengusap-usap rambut Bu Rum yang semestinya tidak pantas kulakukan mengingat usia dan sekaligus statusnya sebagai guru mengaji ibu-ibu di kampungku termasuk ibuku. Tetapi Bu Rum tak peduli. Ia terus asyik dengan kontolku. Dikulum,dihjilat dan dikocok-kocoknya perlahan dengan gemas. Seperti cewek yang baru melihat kontol milik pasangannya. Mungkin karena selama ini ia cuma bisa melakukannya dengan pisang setelah kotol suaminya tidak berfungsi.
Sambil menikmati kocokan dan kuluman Bu Rum pada kontolku, kuremasi teteknya. Tetek Bu Rum besar dan telah menggelayut bentuknya. Namun sangat lembut dan enak di remas. Bahkan puting-putingnya langsung makin keras setelah seringkali aku memerah dan memilin-milinnya. Tak kusangka cewek yang dalam kesehherian selalu tampil dengan busana muslim yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu di kampungku ini juga lihai dalam urusan kulum mengulum kontol. Aku dibuat kkamujotan membatalkan nikmat setiap ia menghjilat dan memainkan lidahnya di ujung kepala kontolku. Bahkan detik Bu Rum mulai mengalihkan permainannya dengan menjilati kantung pelirku dan menghjilati biji-biji pelir kontolku, aku tak mampu bertahan lebih lama. Pertahananku nyheris jebol. Karenanya aku berusaha menherik diri agar air maniku tidak moncrot ke mulut atau wajah Bu Rum.
Namun Bu Rum membatalkan dan menekan pinggangku. “Mau keluar Win ? Muntahkan saja di mulut ibu,” ujarnya sambil langsung kembali menghjilat kontolku. Akhirnya, pertahananku benar-benar ambrol meski telah sekuat tenaga untuk membatalkannya karena merasa tidak enak mengeluarkan mani di mulut Bu Rum. Sambil mendesah dan mengteriak nikmat pejuhku moncrot sangat banyak di rongga mulut Bu Rum. Cairan kental warna putih itu saya lihat berleleran keluar dheri mulut cewek itu. Tetapi ia tidak mempedulikannya. Bahkan menelannya dan dengan lidahnya berusaha menjilat sisa-sisa maniku yang berleleran keluar. Terpacu oleh kepuasan yang baru kurasakan dan banyaknya mani yang keluar membikin tubuhku lemas seperti dilolosi tulang-tulangku. Aku terduduk menyandar di si kursi sofa tempat Bu Rum terduduk.
“Gimana Win, enak?”
“Enak banget Bu,”
“Nanti gantian ya mempunyai ibu dibikin enak sama kamu. Ibu ke kamar mandi dulu,” ujarnya berdiri dan melangkah ke kamar mandi.
Saat kembali dheri kamar mandi, Bu Rum menyodorkan segelas besar teh manis hangat. Sodoran teh manisnya langsung kusambut dan kuteguk.Terasa hangat dan nikmat setelah tenaga hampir terkuras dan kini kembali segar. Saat itu baru kusadheri Bu Rum masih telanjang tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.Aku kembali terpaku pada tubuh bahenolnya yang masih cukup mulus. Wanita berpinggul besar dan berdada semok tapi telah agak kendur itu,biarpun telah menjadi nenek masih sangat menggoda. Jembutnya yang keriting lebat terlihat basah. Mungkin habis dibersihkan di kamar mandi untuk menghilangkan bekas air maniku.
“Mau lagi Win?” ujarnya mendekat dan berdiri tepat di tempat aku duduk. Kini memang gantianku untuk memuaskannya setelah kepuasan yang diberikan padaku. Aku bingung wajib memulai dheri mana dan melakukan apa pada Bu Rum karena memang gak pernah pengalaman dengan perempuan. Hanya dheri sejumlah film BF yang sering kutonton, cewek terlihatnya sangat suka kalau memeknya dijilat. Maka aku langsung turun dheri kursi panjang dan berjongkok di depan Bu Rum. Memeknya yang besar membusung kini tepat di hadapan wajahku. Jembut keriting lebatnya terlihat basah. Dan Bu Rum, melihat aku cuma terbengong memandangi bukit keseganannya, langsung mengangkat kaki kirinya dan di tumpukan pada kursi panjang. Karena pacuma yang terkuak kini aku bisa melihat lubang memeknya yang nampak telah longgar. Lubang memeknya menyerupai lorong panjang. Bahkan saya lihat itilnya yang mencuat di ujung atas belahan memeknya.
Kembali aku menyentuh dan mengusap memeknya. Bibir luar memeknya yang berwarna coklat kehitaman penuh kerutan dan terasa lebih tebal. Namun makin ke dalam lebih lembut dan basah serta warnanya agak memerah.Kudengar Bu Rum mendesah detik jheriku menyelinap masuk menerobos lubang memeknya. Rambut kepalaku diusap dan diremas-remasnya. Desahannya mengingatkanku pada suara cewek yang tengah disetubuhi di tontonan film BF. Aku jadi tteriaksang. Kontolku kembali menggesarit dan bangun. Sambil mendesah, Bu Rum tak cuma meremas dan menjambaki rambut kepalaku. Tetapi ia berusaha menherik dan mendekatkan wajahku kememeknya. Aku jadi tahu, nampaknya ia tidak ingin memeknya cuma dicolok-colok dengan jheriku, Aku yang memang telah kembali tteriaksang langsung mendekatkan mulutku dan mulai mengecupi lubang memek Bu Rum.
Ternyata selain bibir luar memeknya yang makin keras dan berkerut-kerut, di luar kelentitnya yang menonjol besar, ada sebentuk daging yang menjulur keluar dheri lubang memeknya. Bentuknya ngbesarbleh mirip jengger ayam jantan. Pengetahuanku tentang bagian paling intim milik cewek memang sangat terbatas dan melihatnya dheri jarak sangat dekat baru kali ini memperoleh kesempatan. Satu-satunya memek cewek dewasa yang pernah saya lihat ialah milik ibuku. Aku memang sering mengintipnya detik ibu mandi. Atau detik tukar baju di kamarnya dan pernah seringkali melihatnya dalam jarak cukup dekat detik dia tidur. Tetapi sepengetahuanku tidak ada jengger ayam di lubang memek ibuku. Jadi terasa agak aneh atas apa yang saya lihat di lubang memek Bu Rum. Tetapi aku tak peduli. Hingga selain menjilati bibir memeknya, jengger ayamnya juga tak luput dheri sentuhan mulut dan lidahku. Bahkan aku langsung mengulum, menghjilat dan menherik -nheriknya dengan mulutku.
“Ohhh… sshhh… aahhh… enak Win. Aaauuwww… ya.. ya.. aaahhh.. sshhh.. enak banget,”
Aku sangat bahagia karena rupanya Bu Rum menyukai dan keenakan oleh jilatan lidahku di lubang memeknya. Dheri saring sanggamanya mulai keluar lendir yang terasa asin di lidahku. Tetapi itu pun tidak membikin surut langkah untuk terus mengobok-ngobok memeknya dengan mulut dan lidahku. Aku terus mencerucupi dan menghjilatnya hingga lendirnya banyak yang tertelan masuk ke kerongkonganku.Diperlakukan seperti itu Bu Rum seperti kesetanan. Tubuhnya tergetar hebat dan saya lihat ia merintih, mendesah sambil meremasi sendiri kedua tetek besarnya.
“Kamu naik dan tiduran di sofa Win. Sshhh aahh jilatanmu di memek ibu enak banget,” katanya.
Seperti yang dimintanya, aku naik ke sofa dan tiduran telentang dengan kaki menjuntai. Setelah itu Bu Rum ikutan naik. Tadinya kukira ia akan menyetubuhiku dengan posisi cewek di atas seperti yang pernah saya lihat dalam tontonan film mesum yang menggambarkan hubungan seks antara cewek dewasa dan bocah ingusan. Tetapi tidak. Ia berdiri dan memposisikan kedua kakinya susantara tubuhku. Lalu bertumpu di dinding tembok yang ada di belakang kursi sofa dan sedikit menurunkan tubuhnya. Rupanya, ia masih ingin memperolehkan jilatan di memeknya dengan posisi yang membikin dirinya lebih nyaman dan bergerak leluasa. Sebab detik memeknya telah berada tepat di depan wajahku, ia langsung membekapkannya ke mulutku.
Tak kusangka, cewek yang sangat dihormati di kampungku karena selalu berbusana muslimah yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu, di usianya yang telah 53 tahun masih sangat menggebu. Pantesan ia suka menyogok-nyogok memeknya dengan pisang. Mungkin karena tidak tahan akibat tidak pernah disentuh oleh suaminya yang telah tidak bisa melayaninya sama sekali.
Aku sempat gelagapan karena tidak mengira Bu Rum akan membekapkan memeknya ke wajahku. Tetapi setelah mengetahui apa yang diinginkannya, aku langsung menyambutnya biarpun tidak tahu wajib bagaimana semestinya dilakukan. Seperti sebelumnya kembali kujulurkan lidah dan kembali kujilati lubang memeknya. Namun kali ini dengan lebih semangat. Daging jengger ayamnya yang keluar dan menggelambir kukulum. Lalu lidahku menjulur masuk sedalam-dalamnya di lubang memeknya sampai hidung dan wajahku ikut belepotan oleh lendir yang keluar dheri saring sanggamanya. Sambil terus mengobeli memeknya dengan lidah dan mulutku, pantat Bu Rum juga menjadi target remasan tanganku. Meskipun telah mkamurot, pantat Bu Rum yang besar terasa masih cukup kenyal. Nampaknya ia menjadi keenakan. Bu Rum mendesah dan mendesah.
“Iya Win…aahhh… sshhhh…aaahhhh… ssshh.. enak banget. Terus colok memek ibu dengan lidahmu akung. Ahhh.. ya.. ya… oooohhhhh…. ssshhhh,” desahnya tertahan detik aku makin dalam menjulurkan lidah.
Mendengar rintihan dan rintihan Bu Rum, aku jadi makin bersemangat.Hanya karena tidak mempunyai pengalaman, aku cuma menjilat dan mengjilat bagian dalam memeknya sekena-kenanya. Rupanya karena terlalu menggebu, aku sempat menghjilat itilnya dengan kuat. Bu Rum memekik. Tetapi tidak marah dan malah makin keenakan.
“Ia Win itu itil ibu.. enak banget…sshhh ..aahhh.. aahhh. Terus Win hjilat itil ibu… aaoooohhh …oooohhhh,”
Seperti yang dimintanya, itil Bu Rum yang akhirnya paling sering menjadi target jilatan dan hjilatan mulutku. Bahkan sambil terus mencerucupi kelentitnya, dua jheri tanganku kupakai untuk menyogok-nyogok bagian dalam memeknya. Saat itulah Bu Rum menjadi kkamujotan dan beberapa detik kemususan ia memintaku hentikan.
“Udah Win ibu nggak tahan. Bisa KO kalau diteruskan. Sekarang ibu pengin dientot dengan kontolmu. kamu juga pengin kan ngentot dengan ibu kan?”
“Ii .. iya bu. Saya pengin banget. Ta.. ta.. tapi aku tidak tahu caranya,”
“Nggak apa-apa. Nanti ibu ajherin,” ujarnya seraya menggamit lenganku.
Ia membawaku ke kamarnya. Kamar dengan ranjang spring bed berukuran besar dan tampak rapi tertutup sprei motif gheris-gheris. Di kamar Bu Rum, ada meja rias berukuran besar dengan berbagai alat make up di atasnya serta sebuah almheri baju model antik di samping gambar Bu Rum dan suaminya dalam pose berpasangan mengenakan baju adat Jawa. Foto itu sepertinya dibuat detik usianya masih di bawah 40 tahun. Bu Rum terlihat sangat mengnafsukan dan mengnafsukan. Suaminya, Pak Kirno juga terlihat kekar dan tampan. Adanya gambar Pak Kirno suaminya di kamar itu, sebenarnya aku sempat grogi. Tetapi melihat Bu Rum telah telentang di ranjang dan dalam posisi mengangkang, akung kalau wajib melepaskan kesempatan yang telah berada di depan mata. Aku telah sering mengocok sendiri kontolku sambil berimajinasi ngentot dengan Bu Rum. Aku juga ingin mengetahui dan merasakan seperti apa rasanya ngentot sebenarnya.
Dengan kontol tegak mengacung aku naik ke ranjang. Hanya aku tetap bingung bagaimana wajib memulai. Di antara kedua pacuma yang membuka lebar, memek Bu Rum tampak menganga menunggu kontol zakar pria yang mau menyogoknya. Sepasang toketnya yang besar, dalam posisi telentang terlihat jadi ngbesarbleh dan cuma puting-putingnya yang hitam kecoklatan terlihat menantang. Melihat aku cuma mematung, rupanya Bu Rum menjadi tak sabar. Ditheriknya tanganku hingga menjadikan tubuhku ambruk dan menindih tubuh semoknya.Beberapa detik kemususan kurasakan Bu Rum meraba selangkanganku dan meraih kontolku. Batang kontolku yang telah mengacung dikocok-kocoknya perlahan hingga makin makin keras dan membesar.
Oleh cewek itu, kepala kontolku digesek-gesekkannya di sekitar bibir keseganannya. Setelah tepat berada di bagian lubangnya, ia berbisik.”Tekan Win, biar kontol kamu masuk ke memek ibu,” bisiknya lirih di telingaku. Slessseeppp.. blleeesss. Tanpa banyak hambatan kontol kontolku yang cukup panjang dan besar semuanya masuk membenam. Mungkin karena lubang memek Bu Rum yang telah kelewat longgar dan licin akibat banyaknya lendir yang keluar. Bagian dalam memek Bu Rum hangat dan basah. Dan tanpa ada yang memerintah, seperti semacam naluri, aku membikin gerakan naik turun pinggangku hingga kontolku sekan memompa lubang memek cewek itu.
“Iya begitu Win, terus entot akung. Ah.. aahhh….aahhh.. kamu merasa enak juga kan,” Aku mengangguk dan tersenyum. Kulihat Bu Rum mulai mendesah-desah.Mungkin ia mulai merasakan enaknya sogokan kontolku. Dan bagiku,kepuasan yang kurasakan juga tiada tara. Jauh lebih nikmat dibanding mengocok sendiri. Gesekan-gesekan kontol kontolku pada dinding memeknya yang basah menghantarkan pada kepuasan yang sulit kuucapkan. Aku terus mengaduk-aduk memeknya dengan kontolku. Mata Bu Rum membesarik-besarik dan meremasi sendiri teteknya. Melihat itu aku langsung menyosorkan mulutku untuk mengulum dan menghjilati salah satu putingnya. Pentil toketnya yang berwarna coklat kehitaman terasa makin keras di bibirku.
“Iya Win… terus hjilat akung… aahhh… aahhh,Kamu rupanya telah pinter,” ujarnya terus mendesah.Makin lama kusogok dan kuaduk-aduk, lubang memek Bu Rum kurasakan makin basah. Rupanya makin banyak lendir yang keluar. Bunyinya cepok…cepok… cepok… setiap kali kontol kontolku masuk menyogok dan kutherik keluar.
Bosan ngentotin Bu Rum dengan posisi menindihnya, kuhentikan sogokanku pada memeknya. Pasti asyik dan tambah mteriaksang kalau bisa melihat memeknya yang tengah kusogok-sogok, pikirku membathin. Aku bangun, turun dheri ranjang. Dan tanpa meminta persetujuannya, kaki Bu Rum kutherik dan kuposisikan menjuntai di tepi ranjang. Tindakanku itu membikin Bu Rum agak kaget. Namun tidak marah dan bahkan sepertinya ia menunggu tindakan yang akan kulakukan selanjutnya. Namun setelah pacuma kembali kukangkangkan dan kontolku kembali kuarahkan ke lubang memeknya, Bu Rum tersenyum. “Kamu pengin ngentot sambil ngelihatin memek ibu Win? Iya akung, kamu boleh melakukan apa saja pada ibu,” katanya.
Ternyata menyetubuhi sambil berdiri dan melihat ketelanjangan lawan mainnya benar-benar lebih asyik. Lebih mteriaksang karena bisa melihat keluar masuknya kontol di lubang memek. Saat kontolku kutekan, bibir memeknya yang berkerut-kerut seperti ikut melesak masuk. Namun detik kutherik, semua bagian dalam memeknya seakan ikut keluar termasuk jengger ayamnya yang menggelambir. Pemandangan itu membikin aku kian tteriaksang dan kian bersemangat untuk memompanya. Teteknya juga ikut terguncang-guncang mengikuti hentakan yang kulakukan. Aku makin berbirahi dan makin cepat irama kocokan dan sodokan kontolku di saring sanggamanya. Bu Rum tak dapat menyembunyikan kepuasan yang dirasakan. Ia merintih dan mendesah dengan mata membesarik-besarik membatalkan nikmat. Sesekali ia remasi sendiri toketnya sambil mengteriak-teriak. Aku juga memperoleh nikmat yang sulit kulukiskan. Meski lubang memek Bu Rum telah longgar tetapi tetap memberi kepuasan tersendiri hingga pertahananku nyheris kembali jebol.
“sshhh … aahh… sshhh… aaakkhhh… memek ibu enak banget. Saya nggak kuat bu,” ujarku mendesahsambil terus memompanya.
“Tahan sebentar Win. Aaahhh.. sshhh… kontolmu juga enak banget,”Bu Rum bangun mendekap serta menherik pinggangku hingga tubuhku ambruk menindihnya. Kedua kakinya yang panjang langsung membelit pinggangku dan menekannya dengan kuat. Selanjutnya Bu Rum membikin gerakan memutar pada pinggul dan pantatnya. Memutar dan seperti mengayak. Akibatnya kontol kontolku yang berada di kedalaman lubang memeknya serasa diperah. Kenikmatan yang kurasakan kian mencapai puncak. Terlebih ketika dinding- dinding memeknya tak cuma memerah tetapi juga mengempot dan menghjilat. Kenikmatan yang diberikan benar-benar makin tak tertahan.”
Ooohh… aahh… aahhh.. ssshhh… aakkhh enak banget. Saya …aaahhh nggak kuat Bu. Ohhh enakkkhhh bangeet,”
“I..iiya Win, ibu juga mau nyampe. Tahan ya sebentar ya..aaahhh…sshhh.. sshhhh…aahhh….ssshh ….aaaoookkkh,”
Goyangan pantat dan pinggul Bu Rum makin kencang. Dan puncaknya, ia mendekap erat tubuhku sambil mengangkat pinggangnya tinggi-tinggi. Saat itu, di antara rintihan dan teriakannya yang makin menjadi kurasakan tubuhnya menggelinjang dan empotan memeknya pada kontolku kian memeras. Maka moncrotlah pejuhku di kehangatan lubang memeknya berbarengan dengan semburan hangat dheri bagian paling dalam memek guru mengaji ibuku.Karena kepuasan yang aku dapatkan, cukup lama aku terkapar di ranjang Bu Rum.
Saat aku terbangun, Bu Rum telah menyiapkan segelas teh panas dan mengajakku menyantap lontong dan opor ayam bikinan ibuku. Kami menyantapnya dengan nikmat. Bahkan dua bungkus rokok kegemaranku telah tersedia di meja makan. Kata Bu Rum, ia menyempatkan membelinya di warung Lik Karni detik aku tertidur.
Malam itu Bu Rum benar-benar melampiaskan hasratnya yang tertahan cukup lama. Setelah makan aku diajaknya bercumbu di karpet di ruang tengah di depan televisi lalu berlanjut di ranjang ranjangnya. Aku bak seorang murid baru yang cerdas dan cepat pintar menerima pelajaran. Ia mengaku sangat menikmati dan merasa puas oleh sogokan-sogokan kontolku di memeknya yang mempunyai jengger ayam.
“Ibu kira udah nggak bakalan merasakan enaknya yang seperti ini lagi. Karena telah lima tahun lebih sejak bapak kena stroke tidak pernah memperolehkannya. Makanya terpaksa pakai pisang dan kadang kontol karet kalau lagi kepengen,” katanya sambil meremas gemas kontolku setelah persetubuhan yang keempat kalinya malam itu.Ternyata cewek yang selalu tampil bak muslimah yang taat itu, juga mempunyai beberapa koleksi film porno. Ia sempat menyetel sejumlah koleksinya untuk ditonton bersamaku detik istirahat setelah ngentot yang ketiga di depan televisi. Namun yang mengejutkan, karena “nonton bareng” film porno aku jadi tahu kalau ibuku juga penggemar film porno.Itu terlontar secara tak disengaja oleh Bu Rum. Kata Bu Rum yang paling banyak dikoleksi ialah yang menggambarkan tontonan incest atau hubungan seks antar anggota keluarga.
Saat itu Bu Rum memutar dua film. Film pertama menggambarkan tontonan seks antara pria muda berkulit hitam dengan cewek tua kulit putih. Sang cewek kulit putih dibuat merintih dan mengteriak karena sogokan kontol pria pasangannya yang perkasa. Bahkan akhirnya si cewek merelakan anusnya dijebol kontol panjang sang negro muda. Film kedua yang merupakan semi film cerita mengisahkan cewek STW yang bekerja di perusahaan penebangan hutan. Suaminya selalu bteriakkat cukup lama dan cuma beberapa hheri tinggal di rumah karena pekerjaannya itu.Si ibu yang sering merasa kesepian detik suaminya bteriakkat, sering mengobel-ngobel sendiri memek dan itilnya detik hasrat seksnya datang.Ulah si ibu sering dipergoki secara diam-diam oleh pria remaja yang merupakan anak sulungnya. Maka di satu kesempatan, detik tengah berngocok dan sang anak tak tahan membatalkan birahi ia mendekati sang ibu. Keduanya larut dalam permainan panas di dapur, ranjang dan bahkan di kamar mandi tanpa peduli bahwa sebenarnya mereka pasangan ibu dan anak.
Usai pemutaran film yang kedua, kukatakan pada Bu Rum bahwa dibanding film yang pertama, tontonan seks ibu dan anak yang paling bagus. Tetapi komentarku itu membikin Bu Rum keceplosan. Tanpa sadar ia menyebut bahwa film porno itu dipinjam dheri Bu Narsih (nama ibuku). Saat itu ia berusaha meralat. Ia mungkin baru bahwa yang diajaknya bicara ialah aku anak Bu Narsih. Tetapi akhirnya Bu Rum tersenyum dan berterustteriak.
“Keinginan manusia akan seks kan manusiwai Win. Seperti ibu dan ibumu,biarpun telah berumur tetapi kebutuhan akan itu masih belum padam,”kata Bu Rum.
Ibuku memang telah 3,5 tahun menjada setelah ayah meninggal akibat menderita diabetes cukup lama. Untuk kawin lagi mungkin segan karena cucunya telah tiga yang diperoleh dheri Mbak Ratri, kakak perempuanku.Bahkan salah satu cucunya telah duduk di bangku SLTP. Maka ia memilih memendam hasratnya dan lebih menyibukkan diri pada usaha jual beli perhiasan bersarin yang menjadi usacuma selama ini.
Menurut Bu Rum, koleksi film-film porno yang dimiliki ibuku cukup banyak. Koleksi film seksnya yang berthema hubungan seks sedarah tergolong lengkap. Bahkan Bu Rum mengaku, ia mengenal kontol palsu dheri karet yang dikenal dengan sebutan dildo juga dheri ibuku. “Pergaulan ibumu kan luas terutama dengan ibu-ibu dheri kalangan menengah atas. Mungkin dheri ibu-ibu yang menjadi target bisnisnya itu ia jadi mengenal banyak hal,” ujar Bu Rum menambahkan.
Meskipun sangat kaget, tetapi aku tidak mencoba memperlihatkannya di hadapan Bu Rum. Sebab sebagai anaknya aku tidak pernah melihat ibu nonton film porno atau barang-barang berbau seks yang dimilikinya. Di ranjang ibu memang ada televisi berukuran besar dan pteriakkat pemutar DVD. Tetapi kebanyakan film-filmnya ialah film hindustan karena ibu penggemar berat bintang Shah Ruk Khan. Berarti ia mempunyai tempat penyimpanan khusus, ujarku membathin.
Sekitar pukul 03.00 dini hheri, dengan tubuh lunglai aku meninggalkan rumah Bu Rum dengan mengendap agar tidak dipergoki warga lainnya. Ibuku membukakan pintu sambil menggerutu. Katanya mengganggu orang tidur.Tetapi wajahnya saya lihat tidak seperti orang bangun tidur. Bahkan televisi di kamarnya terdengar masih menyala. Seperti kebiasaanya detik tidur ia selalu mengenakan daster longgar.Tetapi detik itu dasternya kelewat tipis hingga terlihat membayang lekuk-liku tubuhnya yang aduhai. Ternyata ia juga tidak menggunakan kutang dan celana dalam sampai-sampai saya lihat tonjolan putingnya pada sepasang toketnya yang hampir sama besar dengan mempunyai Bu Rum. Ah bisa jadi ibu bukannya tidur. Tetapi lagi asyik mengocok-ngocok memeknya dengan kontol karetnya sambil nonton tontonan seorang ibu yang tengah ngentot sama anak lelakinya. Hanya karena terlalu kecapaian, aku langsung masuk kamar dan tidur.
Post title : cerita dewasa dengan ibu ibu
URL post : http://nyampleng.blogspot.com/2011/12/cerita-dewasa-dengan-ibu-ibu.html

0 komentar:

Show Emoticons

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :q: :s:

Poskan Komentar